nenek-katum

Keikhlasan Dan Kesabaran, Setengah Perjalanan Hidup Nenek Ini Untuk Kebaikan (Tausyiah)

Nenek Katum namanya, berusia 80 tahun telah memberikan lebih dari separuh hidupnya untuk menjaga secara sukarela perlintasan rel kereta tanpa palang pintu. Lokasi perlintasan tanpa palang pintu itu berada di Kampung Kemang, Kecamatan Cipocok, Kota Serang, Banten.

“Tidak pernah saya minta uang dari orang,” akunya di kediamannya Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang. Di rumah berlantaikan tanah dan berdinding kayu triplek, nenek Katum tinggal seorang diri. Lokasinya hanya berjarak empat meter dari rel. Tempat tidur yang biasa dipakainya untuk istirahat masih terbuat dari kayu, atau biasa disebut amben. Akan tetapi sang nenek tak pernah mengeluh dengan keadaannya.

Hingga suatu waktu Allah memberikan rezeki bagi sang nenek, yaitu tepatnya pada  7 Desember 2014 silam. Hari dan tanggal tersebut sangat amat berarti bagi sang nenek. Karena, nenek Katum akan berangkat melaksanakan ibadah umrah selama sepuluh hari.

Nenek Katum bisa melaksanakan umroh karena mendapat bantuan dari Dinas Sosial (DINSOS) Provinsi Banten. Tak hanya itu sang nenek pun bertemu dengan Rano Karno, Pelaksana Tugas (PLT) Gubernur Banten saat menerima bingkisan umrah di Pendopo Gubernur Banten.

Dan Dinas sosial (Dinsos) Banten bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) memberikan tempat tidur yang lebih layak untuk sang nenek.

“Kalau kita berbuat baik mah pasti ada aja rejekinya, doakeun nyak nenek, sing lancar, sing salamet (doain ya nenek semoga lancar, semoga selamat),” ungkap sang nenek sebelum berangkat umrah.

Allah tidak pernah tidur, Ia selalu melihat hamba-hambanya baik itu dalam keadaan sedang berbuat baik atau pun maksiat. Maha besar Allah, yang telah memberikan rezeki yang tak disangka-sangka. Semoga keikhlasan sang nenek dapat menginspirasi kita.

Sumber : .islampos.com

 

Read More
Berhenti-Merokok-Pemuda-Ini-Tabung-Untuk-Umroh

Dengan Itikad Baik Dan Niat Yang Ikhlas, Pemuda Ini Berhasil Umrah (Tausyiah)

Ketika seseorang berniat dengan kuat dan ikhlas, maka segala usaha dan ide akan ia lakukan dan gunakan untuk mencapai impiannya tersebut menjadi kenyataan. Sama halnya dengan kisah seorang pemuda yang satu ini dimana ia sengaja berhenti merokok, dan mengambil keputusan untuk tidak berpacaran agar dapat melaksanakan impianya, yaitu umroh.

Sebuah kesaksian pemuda ini, yang menjadi viral di laman media sosial Facebook. Di sebutkan bahwa pemuda ini melakukan tekad yang kuat terinspirasi dari seorang penulis, pembicara, dan pengusaha asal Indonesia yaitu Ippho Santosa. Selama setahun pemuda ini berhenti merokok dan memutuskan hidup single (tak pacaran).

“ jatah rokok sehari Rp.15.000 dan uang kencan (pacaran) setiap bulan Rp 300.000, dimasukin celengan selama satu tahun gak dibuka. Pas dibuka uangnya ada 8,7 jt 15rb.” Tulisnya dalam akun facebook.

Pemuda itu juga menambahkan, “Alhamdulillah berkah Ramadhan, rencana tahun depan jatah rokok Rp.20.000 niatnya gak di buka selama tiga tahun, semoga uangnnya bisa terkumpul dan setiap harinya harus terisi Rp.20.000, nanti hasilnya tinggal dikalikan saja 360 (jumlah hari dlm satu tahun) x Rp.20.000 = Rp.7.200.000 x tiga tahun = Rp. 21.600.000 .” jelasnya.

“Jadi uang jatah rokok selama tiga tahun bisa dipakai berangkat Umroh, Hehehe (insya Allah Tercapai).” ungkapnya dalam salah satu postinganya. Ketika kita bersungguh-sungguh terhadap sesuatu, maka Allah akan mudahkan. Selama niatnya lurus dan tujuannya syar’i. Insya Allah.

Sumber : islampos.com

Read More
Kembara-Berbasikal-Ke-Makkah

Menggunakan Sepeda Ontel, Pasutri Asal Negeri Jiran Ini Beribadah Umroh

Pasangan suami isteri Melayu kompak melakukan perjalanan menunaikan ibadah umrah dengan mengayuh sepeda pancal, bakal mencapai hajat mereka segera setelah mengembara sembilan bulan lamanya.

Warga Malaysia, Ahmad Mohd Isa (27 tahun) dan istrinya Noradilah Mohd Sapie (28 tahun)– memilih untuk mengayuh kendaraan roda dua ke tanah suci.

Sebelumnya, pasangan itu dilaporkan nekat menantang kemampuan mereka melakukan ekspedisi bersepeda bertajuk ‘Kembara Memburu Hikmah’ (KMH), dengan mengayuh sepeda dari Malaysia ke Makkah sejauh 17.000 kilometer.

Setelah bertolak dari Malaysia, mereka harus melintasi 13 negara lain dalam waktu hamper setahun, yaitu; Thailand, Myanmar, India, Nepal, Pakistan, China, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Uzbekistan, Afghanistan, Iran, UEA, sebelum akhirnya menjejakkan kaki ke Arab Saudi sebagai negara ke-13.

Dalam wawancara melalui kiriman email dengan Mediacorp Singapura, pasangan itu mengatakan bahwa mereka kini sudah berada di Afghanistan, negara ke-11 dari 12 negara yang harus dilalui. Ini berarti tinggal lagi 1 negara harus direntasi sebelum tiba di Arab Saudi.

“Alhamdulillah, selama 27 hari kami di Uzbekistan yaitu dari 11 Desember 2016 hingga 6 Januari 2017, sekarang kami sudah berada di Afghanistan. Insya Allah, sesuai rencana kami, perjalanan berikutnya (sesuai urutan) adalah Iran, Emirat Arab dan Arab Saudi, “kata mereka dikutip Mediacorp, Rabu (11/01/2017).

Menurut Ahmad dan Noradilah, tantangan besar yang mereka lalui sepanjang petualangan itu adalah masalah komunikasi dengan masyarakat di suatu negara.

“Bahasa yang mereka tuturkan seperti Urdu, Uighur, Persia dan bahasa lokal lainnya tidak dapat diterjemahkan menggunakan setiap aplikasi di internet.

“Mereka pula sebagian besar tidak memahami bahasa Inggris atau Arab. Maka ini menyulitkan komunikasi antara kami untuk saling bertukar pandangan, “ujar pasangan itu memberitahu.

Bersepeda di Musim Salju

Sungguhpun begitu, pengalaman yang diraih ada juga yang memberi kesan mendalam kepada pasangan yang memang ‘kaki sepeda’ dan membesar dengan bersepeda dari zaman sekolah sampai universitas.

Di halaman Facebook KMH, pasangan itu berbagi “pengalaman hebat” ketika bersepeda di musim salju di Kazakhstan – dengan mengupload video – karena itulah kali pertama mereka bergelimang dengan salju!

Ternyata tidak mudah karena mereka beberapa kali tergelincir. Namun menurut pasangan berkenaan itu “membuat hati mereka semakin kental untuk melanjutkan perjalanan”.

Basikal-ke-Makkah

Makanan tak Terputus

Selain itu layanan baik yang diterima cukup membuat mereka tersentuh.

“Berbagai bentuk layanan dan bantuan yang di luar harapan kami terima dari insan-insan berhati mulia sepanjang perjalanan ini dan semuanya membuat kami tersentuh.

“Sejak memasuki negara-negara ‘STAN’ (Pakistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Uzbekistan, Afghanistan, Kazakhstan), rezeki dalam bentuk makanan tidak putus-putus. Kami tidak sempat untuk merasa lapar.  Setiap kali diundang makan, makanan penuh terhidang atas meja, “ kata mereka, menjelaskan adat budaya warga yang memanjakan para tamu dengan berbagai jenis hidangan.

“Semoga Allah merahmati hidup mereka yang memberikan bantuan, dukungan dan mendoakan kami apakah kami tahu atau tidak. Setiap kebaikan itu ada balasan dan rahmat di sisiNya.”

Sujud Syukur depan Ka’bah

Setelah sekitar sembilan bulan perjalanan mereka, yaitu sejak April 2016, kini Noradilah dan suaminya semakin hampir ke tujuan utama, yang diidam-idamkan setelah sekian lama.

Kedatangan mereka di Makkah nanti pasti menjadi satu momen bersejarah dalam hidup mereka dan tidak ada tandingannya. Setelah menjejakkan kaki di Makkah, hal pertama yang ingin dilakukan adalah “bersujud syukur di hadapan Ka’bah”.

Ahmad dan Noradilah berharap berada di Makkah menunaikan umrah selama dua minggu sebelum pulang ke pangkuan keluarga tercinta di Malaysia.

“Kami rindu sekali menginjakkan kaki ke tanah air sendiri setelah ke tanah suci Makkah dan Madinah. Selain itu kami juga rindu ingin mendekap kedua orang tua kami yang tidak putus-putus mendoakan perjalanan kami agar selalu lancar dan aman, ” ujarnya.

Selain melakukan misi kemanusiaan di setiap negara yang dijelajah, pasangan suami istri itu turut membawa tantangan merekam data terkait sejarah, budaya dan kehidupan masyarakat Islam.

Sumber : hidayatullah.com

Read More
suntik-vaksin-meningitis

Pentingnya Suntik Vaksin Maningitis Untuk Jamaah Haji dan Umrah (Tausyiah)

Ketika akan berangkat haji dan umroh maka syarat yang harus penuhi oleh jamaah adalah harus mendapatkan suntik vaksin meningitis dan ini sudah menjadi ketentuan dari pemerintah Arab Saudi sejak tahun 2002. Kementerian Kerajaan Arab Saudi telah menjadikannya syarat pokok dalam pemberian visa bagi negara yang mengirimkan jamah haji dan umroh bahkan TKI/TKW yang akan masuk ke Saudi pun tidak luput dari kebijaksanaan ini.

Vaksin meningitis meningokokus Menveo ACW 135Y yang telah mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) dan dinyatakan halal berdasarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Imunisasi meningitis merupakan persyaratan wajib untuk mendapatan visa sesuai ketentuan yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi bagi semua calon jamaah haji dan umroh. Untuk efektivitas vaksin, imunisasi diberikan sekurang-kurangnya dua minggu sebelum keberangkatan. Tujuan imunisasi adalah untuk melindungi jamaah dari penularan penyakit meningitis selama 3 tahun.

Fakta tentang penyakit meningitis

Meningitis adalah penyakit radang selaput otak. Penyakit yang terjadi pada meningis, yaitu selaput (membran) yang melapisi otak dan syaraf tunjang. Meningitis dapat disebabkan berbagai organisme seperti virus, bakteri, ataupun jamur yang menyebar masuk ke dalam darah dan berpindah ke dalam cairan otak.  Ketika beribadah di tanah suci kita akan berkumpul dengan orang-orang dari semua negara termasuk jamaah yang menjadi endemik penyakit meningitis seperti Amerika Serikat, Afrika yang terbentang dari Senegal di barat ke Ethiopia di timur ( negara ini ditinggali kurang lebih 300 juta manusia) , dan Australia merupakan daerah yang termasuk endemik meningitis (sumber http://travelling.bisnis.com/read/20130423/85/10445/endemik-meningitis-hati-hati-melancong-ke-afsel-as-australia).

Penyakit meningitis bahkan sempat mewabah di Amerika Serikat gara-gara sebuah perusahaan farmasi di Massachusetts yang obat-obatannya telah teridentifikasi tercemar. Akibat dari penyakit ini adalah dapat menyebabkan kerusakan otak, hilangnya pendengaran, dan gangguan belajar. Jumlah korban meningitis di Amerika tercatat mencapai total 254 orang, dengan 20 di antaranya meninggal dunia. Dari fakta di atas, tidak aneh bila Pemerintah Arab Saudi mewajibkan suntik vaksin meningitis bagi jamaah haji dan umroh yang akan beribadah di tanah suci.

Pemberian vaksin ini akan mempunyai masa kekebalan selama 2 tahun sehingga bila tahun depan akan melaksanakan umroh lagi tidak perlu melakukan suntik vaksin meningitis. Biaya untuk mendapatkan  vaksin ini adalah sekitar 400.000-500.000. Biasanya pelaksanaannya oleh biro umroh akan dilakukan bersamaan waktunya dengan manasik umroh.

Persyaratan Vaksin Meningitis.

Persyaratan yang harus dilengkapi untuk mendapatkan vaksin meningitis beserta buku ICV adalah :

  • Nama sesuai paspor dan No paspor.
  • Fotokopi paspor 1 (satu) lembar.
  • Pas photo, ukuran 4×6 sebanyak 1 lembar.

Tips terbaik untuk mendapatkan Vaksinasi Meningitis.

Kekebalan vaksin baru terjadi dalam 2 minggu dengan masa kekebalan 2 tahun, maka sebaiknya waktu penyuntikan dan keberangkatan disarankan kurang lebih 2 minggu sebelum masa keberangkatan haji / umroh. Vaksinasi meningitis berlaku selama 2 (dua) tahun, apabila jamaah yang sudah pernah melaksanakan umroh/haji dan sudah pernah divaksin maka tidak perlu dilakukan penyuntikan kembali.

Penularan dan Pencegahan Meningitis.

Meningitis adalah hasil dari infeksi yang menjalar. Bakteri atau virus yang menyebabkan meningitis bisa tersebar melalui batuk, bersin, ciuman, atau berbagi peralatan. Beberapa langkah awal untuk mencegah terjangkit meningitis adalah:

  • Mencuci tangan.
  • Membiasakan Gaya Hidup higienis.
  • Pola hidup sehat.
  • Menutup mulut saat bersin atau batuk.

Jadi, sebelum jamaah menginjakan kaki di tanah suci, syarat disuntik vaksin meningitis wajib hukumnya, sesuai dengan ketentuan dari pemerintah Arab Saudi.

Sumber : naapaketumroh.com

Read More
Perjuangan Penuh Haru Suami Istri Pedagang Bakso Dan Es Kelapa Muda Yang Bisa Tunaikan Umroh

Penjual Es dan Bakso Ini Akhirnya Menjadi Tamu Allah SWT di Baitullah

Pasangan suami istri/Pasutri Riski (50) dan Fatima (40) bersyukur cita-citanya melaksanakan ibadah umrah telah tercapai. Pasangan tersebut melaksanakan ibadah itu dengan ongkos hasil dari berjualan es degan dan bakso yang telah mereka jalani selama 15 tahun.

Pasutri itu berangkat umrah dari Jember. Menurut Riski, ibadah tersebut ditempuh selama 20 hari, di Madinah 5 hari dan di Mekkah selama 15 hari.

Dikutip dari NUonline, riski mengatakan bahwa “Saya tidak punya gaji bulanan, bukan pegawai negeri. Tidak punya juga apa yang mau dijual. Jadi, hasil jualan ini saya tabung untuk ongkos keberangkatannya ke tanah suci,” ujar pria lulusan SMP itu di tempat ia bekerja sehari-hari, sebuah warung di pinggir jalan di Desa Lojejer, Selasa (10/1).

Bapak dua anak ini menambahkan, awalnya ia mempunyai uang 5 juta untuk membuka tabungan dia dan istrinya.

“Saya buka rekening di bank. Saya menabung tidak setiap hari. Saya kumpulkan dulu selama beberapa hari. Empat hari atau lima hari, saya tabungkan ke bank BRI Cabang Tenggarang dekat pasar itu sebesar 500 ribu atau 700 ribu itu untuk dua orang,” tuturnya.

Warga Desa Kajar Rt 4 Rw 1 Kecamatan Tenggarang itu mengaku menjual satu es degan seharga 6 ribu rupiah. Sementara bakso per mangkok 5 ribu rupiah.

Ketika musim panas, lanjutnya, es degan laris manis. Sehari ia bisa menjual 100 -125 butir dengan harga sama, 6 ribu. Sementara ia membeli kelapa tersebut seharga 2 ribu per butir.

“Semua itu niat hati, insyaallah bisa berangkat. Ini buktinya saya bisa berangkat umrah,” ucapnya.

Sumber : nu.or.id

Read More
gendong-ibunya-saat-pelaksaan-ibadah-haji

Berbuat Baik Dengan Sebaik-Baiknya Pada Orang Tua, Agar Kita Mendapat Ridho Allah SWT (Tausyiah)

kepada keduanya merupakan perintah utama ajaran Islam. Allah Ta’ala sampai mengulang-ulang perintah ini di dalam Al-Qur’an setelah perintah mentauhidkan-Nya:

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapakmu.” (An-Nisa [4]: 36).

Pada ayat yang lain juga Allah Ta’alategaskan. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (Al-Isra` [17]: 23).

Dari dua ayat di atas, kita dapat pahami bahwa birrul walidain (berbakti kepada ibu dan bapak) adalah perkara utama. Berbakti kepada kedua orangtua bisa diwujudkan dengan cara senantiasa mengasihi, menyayangi, mendoakan, taat dan patuh, melakukan hal-hal yang membahagiakan hati serta menjauhi hal-hal yang tidak disukai oleh mereka. Inilah yang dimaksud dengan birrul walidain.

Karena berbakti kepada ibu dan bapak adalah perintah utama, maka hukumnya jelas, berbaktinya seorang anak kepada Orangtuanya adalah hak yang Allah berikan kepada ibu dan bapaknya. Jadi, manakala ada seorang anak yang tidak berbakti kepada ibu bapaknya, maka baginyaadalah dosa besar, meskipun alasan tidak berbaktinya itu karena dalam rangka taat kepada Allah Ta’ala.

Suatu ketika datang seseorang lalu berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, saya ingin ikut berjihad, tapi saya tidak mampu!” Rasulullah bertanya, “Apakah orangtuamu masih hidup?” Orang itu menjawab,“Ibu saya masih hidup.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammenjelaskan: “Temuilah Allah dengan berbakti kepada kedua orangtuamu (birrul walidain). Jika engkau melakukannya, samalah dengan engkau berhaji, berumrah dan berjihad.” (HR. Thabrani).

Dalam hadits lain disebutkan, “Bersimpuhlah kau di kakinya (orangtuamu), di sana terdapat surga.”

Boleh Tidak Taat Dalam Hal Kemusyrikan

Allah Ta’ala dan Rasul-Nya hanya membolehkan seorang anak tidak taat kepada ibu bapaknya dalam hal kemusyrikan dan kemaksiatan. Tetapi perintah berbakti kepada ibu bapak ini tetap berlaku sekalipun orangtua dalam kondisi musyrik. Sekalipun Allah Ta’ala memberikan ketetapan bahwa tidak wajib hukumnya taat kepada Orangtua dalam hal kemusyrikan. Tetapi, berbakti kepada keduanya, tetap sebuah kewajiban yang tak bisa ditawar-tawar.

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu menaati keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS: Lukman [31]: 15).

Suatu riwayat menyebutkan bahwa ayat tersebut turun berkaitan dengan peristiwa yang dialami seorang sahabat bernama Sa’ad bin Abi Waqashradhiyallahu ‘anhu. Ketika Sa’ad masuk Islam, ibunya tidak setuju, bahkan mengancam untuk tidak makan tidak minum hingga Sa’ad melepaskan keimanannya. Ancaman itu ternyata benar-benar dilakukan oleh sang ibu, hingga kesehatan ibunya menurun dan berada dalam kondisi kritis.

Pada saat kritis seperti itu, Saad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhuberkata dengan lembut kepada ibunya, “Ketahuilah wahai Ibu, demi Allah, seandainyaIbu mempunyai seratus nyawa dan nyawa itu keluar satu persatu dari tubuh Ibu, niscaya aku tidak akan meninggalkan agama ini, walau apa pun yang terjadi. Aku tidak akan peduli dengan segala ancaman Ibu!”

Dengan demikian dapat dipahami secara keseluruhan bahwa berbakti kepada ibu bapak adalah kewajiban utama seorang anak setelah menunaikan kewajiban utamanya kepada Allah Ta’ala. Seorang anak hanya boleh tidak taat kepada orangtua bila mereka mengajak kepada kemusyrikan dan kemaksiatan. Namun berbakti dan berbuat ma’ruf kepada keduanya tetaplah satu kewajiban.

Keutamaan Berbakti Kepada Orangtua

Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhupernahbertanya kepada Rasulullah tentang perbuatan apa yang paling disenangi oleh Allah.

Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua ibu bapak.”

Lalu dia bertanya kembali, “Kemudian apalagi ya Rasulullah.”

Beliau menjawab, “Berjuang di jalan Allah.”

Artinya, siapa berbakti kepada Orangtuanya dengan sebaik-baiknya, maka jelas surga ada di hadapannya. Betapa tidak?
Lihatlah, hadits ini menunjukkan berbakti kepada orangtua lebih utama nilainya daripada jihad fii sabilillah (berjihad/berperang di jalan Allah). Sementara kita tahu, jihad fii sabilillahadalah jalan pintas menuju surga-Nya. Maka tentu saja berbakti kepada orangtua akan mendapat balasan surga yang lebih baik.

Perlu diketahui pula, kemuliaan untuk orang yang berbakti kepada orangtuanya tidak hanya saja diberikan kelak di akhirat, namun juga sudah ditampakkan sejak di dunia. Hal ini bisa dilihat dari kisah Uwais Al-Qarni, seorang Muslim dari Yaman yang sangat taat dan berbakti kepada ibunya.

Uwais belum pernah berjumpa dengan Rasulullah, namun karena begitu berbaktinya dia kepada orangtuanya, sehingga Allah mencintai dia, dan kecintaan kemuliaan Uwais sampai ke telinga Rasulullah. Tapi suatu saat Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertutur bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Telah datang ke negeri ini Uwais Al-Qarni, dari desa atau kabilah Murad dan Qaran. Semula ia terkena penyakit belang, lalu sembuh. Ia sangat mencintai dan berbakti kepada ibunya. Kalau bersumpah dan berdoa kepada Allah pasti dikabulkan. Jika kalian mau, mohonlah kepadanya, agar ia memintakan ampun buat kalian.” (HR. Muslim).

Bayangkan, sahabat sekelas Umar diberikan anjuran untuk memuliakan seorang Uwais Al-Qarni. Seorang Muslim yang belum pernah beliau temui dan belum pernah sekalipun turun ke medan jihad. Tetapi, inilah satu bukti bahwa siapa yang benar-benar berbakti kepada ibu bapaknya, kemuliaan adalah pakaian yang layak disandangnya.

Secara logika, boleh jadi kita tidak disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana Uwais telah disebutkan dihadapan para sahabat utama sebab Rasulullah telah meninggalkan kehidupan fana ini. Tetapi, bukan tidak mungkin Allah Ta’ala akan mencatat siapa saja yang berbakti kepada Orangtuanya sebagai seorang Muslim yang dibanggakan di hadapan para malaikat-Nya, Insya Allah.

Dengan demikian sungguh indah balasan atau keutamaan dari berbakti kepada kedua Orangtua. Sayangnya, banyak manusia yang melalaikannya. Padahal, ridha Allah Ta’ala ada pada ridha ibu dan bapak. “Keridhaan Allah seiring dengan/dalam keridhaan ibu bapak, dan kemurkaan-Nya seiring dengan/dalam kemarahan ibu bapak.” (HR. Turmudzi).

Jadi, berbaktilah kepada Orangtua dengan sebaik-baiknya. Niscaya ridha Allah Ta’ala adalah balasan utamanya. Paling tidak, jangan pernah sampai lupa untuk mendoakan keduanya kala kita berdoa(QS. 17: 24).

Sumber : hidayatullah.com

Read More
selfi saat haji atau umrah

Hukum Berfoto/Selfie Saat Menjalankan Ibadah Haji Maupun Umrah Di Baitullah

Zaman semakin canggih, perlengkapan bukan hanya untuk kegiatan ibadah saja (Haji dan Umrah), namun untuk dokumentasi dan kenang-kenangan menjadi hal yang tidak kalah penting dewasa ini.

Seperti halnya kegiatan berselfie/foto di Baitullah. Ada sisi positif dan negatifnya. Positifnya ialah untuk mereka sanak keluarga dan tetangga yang di tinggalkan, akan percaya bahwa memang anda sedang menjadi tamu Allah SWT, namun untuk hal negatifnya ialah, lalai dan membuang waktu, misalkan memfoto diri sendiri ketika ia sedang sholat, memfoto diri sendiri ketika ia sedang sedekah, memfoto diri sendiri ketika ia sedang Umrah, memfoto foto diri sendiri ketika ia sedang wukuf dipadang arafah, dan berbagai macam jenis-jenis selfie saat sedang melakukan ibadah.

Apapun itu pertimbangannya, namun yang terpenting ialah tujuan kita ke Baitullah. Ini adalah beberapa ayat yang bisa menjadi pertimbangan jamaah dalam melakukan kegiatan berfoto/selfie, antara lain :

Allah SWT berfirman :

Hadits-Tentang-Selfie-1

Dari Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di, r.a. menafsirkan yakni “tersembunyi” bermakna {” (bahwa dalam beribadah hendaklah) tidak terang benderang dan tidak dijelaskan karena takut darinya perbuatan Ria’, tetapi dikerjakan tersembunyi hanya tulus karena Allah SWT “}.

Allah SWT berfirman :

Hadits-Tentang-Selfie-2

Dari penjelasan di atas maka dapat dikatakan bahwa di dalam beribadah itu tidaklah harus secara terang benderang, dalam arti lain seseorang dalam beribadah itu dilakukan secara rahasia, cukup Allah SWT yang tahu perihal ibadah kita.

Dalam beribadah hendaknya dilakukan secara khusu’ dan benar-benar yakin akan ke Esaan Allah SWT. Karen sejatinya ibadah tersebut hanya ada antara seorang hamba dengan Allah SWT saja, tidak dikerjakan secara terang-terangan, dan tidak pula dikerjakan secara Ria’.

Oleh karena itu, janganlah jamaah umbar-umbar kebaikan yang jamaah lakukan di sana, kebaikan dalam beribadah kepada-Nya. Dan marilah kita sembunyikan amal ibadah kita sebaik mungkin, sebagai mana kita menyembunyikan dosa kita dari mereka.

 

Read More
Arsyad-hidayat

Ini Tips Dari Kepala Daker Makkah Untuk Para Jamaah Umrah Indonesia (Tips)

Saat Jamaah tanah air tiba di Makkah, tepatnya di bandara internasional King Abdul Aziz, Arab Saudi. Ada yang langsung ingin melakukan umrah meski mereka baru saja menjejakkan kaki di Tanah Suci. Kepala Daker (Daerah Kerja) Makkah, Arsyad Hidayat, memberikan tips bagaimana umrah bagi jamaah yang tiba di Makkah.

Pertama, kata Arsyad, setibanya di Kota Makkah, jamaah sebaiknya beristirahat sebelum berangkat umrah ke Masjidil Haram. Jamaah minimal istirahat dua sampai tiga jam untuk mempersiapkan kondisi fisik.

Jamaah tidak perlu terburu-buru karena bus salawat sudah stand by untuk mengantarkan jamaah ke Masjidil Haram. Pihak maktab juga menyiapkan pembimbingan ibadah.

Kedua, perhatikan dan kenali nama hotel yang dihuni. Ini agar jamaah tahu jalan pulang saat mereka tersesat. “PDG 01 misalnya, menempati rumah 101. Jangan lupa kalau diberi petugas berupa nomor maktab, nomor bus, atau  gelang maktab, itu dipegang betul,” pesan Arsyad.

Ketiga, jamaah jangan lupa membawa kartu identitas berupa kartu pengenal yang bisa disimpan di tas. “Masukan juga di situ kartu maktab dan kartu bus,” katanya.

Kartu identitas, lanjut Arsyad, menjadi salah satu pengaman saat jamaah kesasar atau tidak tahu jalan. Kartu identitas itu bisa ditunjukan kepada petugas sehingga memudahkannya untuk mengetahui arah pulang.

Keempat,  jamaah harap catat nomor telepon ketua regu, ketua tombongan, dan ketua kloter. Hal itu dimaksudkan agar lebih mudah menghubungi seseorang saat dalam keadaan kesasar.

Kelima, selalu bersama-sama dalam berihram. Menurut Arsyad, minimal bersama satu regu atau 10 orang. Kalau bisa satu rombongan itu lebih baik.

Sumber : ihram.co.id

Read More
parfum-timur-tengah-paling-digemari

Parfume Arab Menjadi Oleh-oleh Dari Tanah Suci, Berikut Tipsnya

Parfum Arab adalah salah satu oleh-oleh yang banyak diburu oleh jamaah haji dan umrah. Terlebih, parfum Arab murni tanpa alkohol dengan aroma yang khas dengan bunga dan kayu-kayuan dan dipastikan hampir semua jamaah haji dan umrah menggunakan parfume jenis ini.

Jeddah adalah surganya parfum di tanah Arab, sayangnya waktu transit di tempat ini tidak terlalu lama tapi kota Makkah pun tidak kalah reputasinya jika jamaah ingin mencari parfum tanpa alkohol dengan aroma khas Timur Tengah.

Ada beberapa tips untuk kamu yang ingin membeli parfum di Arab.

Pilih aroma yang diinginkan. Paling tidak, tahu nama parfum yang dicari.

Jangan gunakan wewangian ketika hendak beli parfum sehingga aromanya tidak tercampur.

Bawa bubuk kopi guna netralisir penciuman. Jadi, penciuman Anda akan fokus pada parfum yang dicari.

Siapkan tisu guna mencoba parfum.

Sumber : ihram.co.id

Read More
Sri-Mulyono-tukang-becak-berangkat-umrah

“Si Pengayuh Becak” Akhirnya Menjadi Tamu Allah Menuju Baitullah

Niat dan usaha yang gigih bisa membawa seseorang berhasil mewujudkan cita-cita mereka. Demikian pula dengan Sri Mulyono, warga Cemani, Grogol, Sukoharjo yang mampu membayar biaya umrah untuk pemberangkatan Maret 2017 mendatang dari hasil kegigihannya bekerja.

Meski sebagai tukang penarik becak yang pendapatannya tak tentu, Sri Mulyono yang akrab disapa Uut ini rajin menabung sedikit demi sedikit demi mewujudkan niatnya beribadah ke Tanah Suci yang biayanya lumayan banyak. Meski dia harus menunggu selama belasan tahun sampai biaya umrah itu cukup, namun yang penting baginya niat itu dapat ditunaikannya.

“Dulu ketika timbul niat ibadah umrah, saya tidak tahu kapan itu akan terwujud. Tapi dengan keyakinan bahwa saya bisa, saya tidak masalah harus menunggu lama,” ujar Sri Mulyono saat dijumpai Solopos.com di sekitar lokasi mangkalnya di Jl. KH. Samanhudi, Solo kawasan pondok pesantren Ta.mirul Islam, Mangkuyudan, Sabtu (7/1/2016).

Uut menyadari biaya umrah tersebut hanya bisa ia peroleh dengan cara menabung. Tapi hal itu juga tidak ia capai dengan mudah. Apalagi dia juga harus menghidupi anak dan istrinya.

Ia harus berjuang dari pagi sekitar pukul 05.30 WIB hingga larut malam setiap hari untuk menunggu penumpang yang akan menggunakan jasanya. Pernah beberapa kali tidak ada satu pun penumpang yang menghapirinya. Baginya, hal itu sudah menjadi risiko pekerjaan.

Hati mulia pun ditunjukkan laki-laki kelahiran 1961 ini. Ketika hasil tarikan tak begitu banyak, dia lebih baik menyedekahkan uang itu kepada orang yang lebih membutuhkan.

“Kalau hasilnya sedikit, kadang saya kasihkan kepada pengemis yang kondisinya payah. Saya yakin Allah akan menggantinya. Dan benar saja, besok-besoknya penumpangnya banyak,” kata dia.

Berbagi

Pada saat penumpang banyak dan pendapatannya lebih, saat itulah sebagian uangnya ia tabung. Cara menabungnya juga terbilang unik. Dia mengumpulkan sendiri uang itu hingga di atas Rp500.000. Tak peduli butuh berapa lama untuk mendapat uang sebanyak itu.

Jika sudah terkumpul, dia akan berhutang kepada saudaranya senilai uang tersebut. “Supaya saya tetap semangat bekerja, saya berhutang dulu kepada saudara,” kata dia. Lalu uang utangan itu ia titipkan kepada salah seorang ibu yang rumahnya tak jauh dari tempat ia mangkal.

Setelah belasan tahun, pekan lalu tabungannya mencapai Rp24juta sehingga ia memberanikan diri mendaftar umrah ke Biro Haji dan Umrah Ta’mirul Islam Al Mabrur tak jauh dari tepat dia mangkat. “berangkatnya Maret. Semoga lancar,” ucap Uut sambil pamit untuk salat Asar.

Direktur Biro Haji dan Umrah Ta’mirul Islam Al Mabrur, Nurrohmat saat dujumpai di kantornya mengatakan Uut sudah melakukan pembayaran pada 6 Januari lalu. “Ya. Pak Uut sudah membayar biaya umrah kepada kami tanggal 6 Januari lalu,” kata dia.

Nurrohmat menambahkan, biaya umrah sebenarnya Rp24,5 juta belum termasuk biaya pengurusan paspor dan vaksin meningitis. “Tapi setelah kami berkonsutlasi dengan pimpinan pondok, kami sepakat membantu Pak Uut dengan melunasi kekurangannya,” imbuhnya.

Sementara salah seorang warga Mangkuyudan Sri Harjo, mengatakan Uut dikenal sebagai tukang becak yang baik karena suka membantu orang lain dengan caranya sendiri. “Kadang dia tidak mau dibayar karena yang diantar terlihat kurang mampu.”

Sumber : solopos.com

Read More