15-bulan-diatas-masjid-nabawi

Ini Hal Menarik Dari Masjid Nabawi Yang Mesti Diketahui Oleh Jemaah

Salah satu tempat tercantik dan paling di sucikan umat muslim di kota Madinah saat para jamaah melakukan ibadah haji maupun ibadah umroh salah satunya ialah masjid Nabawi, banyak hal yang menakjubkan pada mesjid kedua yang di bangun oleh Rasulullah SAW.

Dari keindahan dan kecantikan bangunan ini, tersimpan hal-hal yang menarik yang tentunya belum semua jamaah mengetahuinya. Apa saja hal-hal yang tersembunyi dari masjid Nabawi ini :

  1. Unta Nabi Muhammad SAW

Sebelum menjadi masjid yang begitu besar seperti sekarang, dahulu Nabawi merupakan lahan kosong dengan sejumlah pohon kurma yang tumbuh di atasnya. Lokasi pembangunan masjid ini merupakan tempat pemberhentian pertama unta yang ditunggangi Rasulullah ketika tiba di Madinah.

2. Dialiri Listrik Pertama Kali di Jazirah Arab

Ketika Kerajaan Ottoman memperkenalkan listrik di Jazirah Arab, tempat pertama yang menikmati listrik merupakan Masjid Nabawi. Masjid ini mulai menyala sekitar tahun 1909.

3. Raudhah (Taman Surga)

Bersujud di Raudhah atau Taman Surga adalah impian bagi hampir setiap umat Muslim yang berkunjung ke Masjid Nabawi di Kota Madinah, Arab Saudi. Raudhah adalah sebuah ruangan yang terletak di antara mimbar Masjid Nabawi dengan makam (dahulu kamar tidur) Rasulullah Muhammad SAW. Sang Nabi sendiri yang menyebut ruangan seluas 22×15 meter itu sebagai taman surga dan meminta umatnya untuk berdoa sebanyak-banyaknya di tempat itu.

raudah

Kabarnya, laiknya berdoa di Multazam atau lokasi antara Hajar Aswad dan Pintu Kabah di Kabah, Makkah, di Raudhah semua doa yang tulus akan dikabulkan. “Antara mimbarku dan rumahku merupakan taman dari taman-taman syurga.” (HR. Al Bukhari & Muslim).

Selain untuk berdoa, bagi umat Islam era kini, Raudhah adalah jarak terdekat yang dapat dicapai untuk bersanding secara fisik dengan Sang Nabi karena tepat di balik bangunan persegi empat berwarna hijau dengan kaligrafi emas yang terletak di sebelah kiri saat mereka bersujud di Raudhah itulah makam Nabi Muhammad SAW.

4. Punya tiga mihrab

Mihrab merupakan bagian dari masjid yang dipakai imam untuk memimpin salat. Biasanya masjid mempunyai 1 mihrab saja, tapi tidak dengan Nabawi. Ada tiga mihrab di sana.

Satu mihrab yang kini digunakan sang imam pemimpin salat berjamaah. Mihrab lainnya adalah Suleymaniye yang dibangun atas perintah Sultan Suleyman untuk imam Hanafi memimpin solat. Sedangkan satu lagi adalah mihrab untuk imam Maliki yang dulunya sering ditempati Rasulullah untuk memimpin salat.

5. Banyak tanda rahasia

Ternyata, beberapa sisi Masjid Nabawi memiliki tanda rahasia. Beberapa pilar ditandai secara khusus untuk mengingatkan tempat itu di masa lalu adalah lokasi yang penting. Banyak jamaah yang tidak mengetahui hal ini.

Itu sebagian hal-hal yang menarik pada masjid Nabawi, namun ini baru sebagian kecil saja yang di ulas, masih banyak lagi hal-hal menarik pada masjid Nabawi. Semoga kita bisa berkunjung ke masjid yang di bangun oleh Rasulullah SAW tersebut.

Sumber : travel.detik.com

 

Read More
masjid-nabawi-1

5 Tempat Bersejarah Di Masjid Nabawi Yang Sayang Jika Dilewatkan

Untuk Anda yang akan pergi atau sedang di masjid Nabawi, jangan lewatkan untuk berkunjung ke 5 tempat bersejarah ini.

1. Kompleks Pemakaman Baqi’

Letaknya berdampingan dengan masjid Nabawi persisnya sisi sebelah barat dekat pintu 36. Sayangnya memang wanita dilarang memasuki area dalam pemakaman ini. Tapi tak usah khawatir kita masih bisa mengintip dari pagar luar lewat celah yang ada. Enaknya jalan-jalan mengunjungi Baqi’ di saat pagi selepas shalat subuh sambil menunggu waktu dhuha tiba.

Suasananya masih sepi dan bisa leluasa jika ingin memfoto kondisi makam yang ternyata begitu sederhana hanya dikenali dengan batu-batu berjajar. Di pemakaman Baqi bersemayam jenazah para istri Nabi SAW kecuali Khadijah RA yang dimakamkan di Ma’la dan Maimunah RA yang beristirahat di daerah Saraf. Beberapa sahabat juga dikuburkan Baqi salah satunya sahabat Usman Bin Affan ra.

2. Masjid Ghamama dan Masjid Sab’ah

Masjid Ghamama atau dikenal dengan masjid mendung bersejarah karena di sanalah dahulu Rasulullah pernah melaksanakan shalat istisqa, shalat meminta hujan dan tak berapa lama kemudian awan di atasnya mendung. Di sana pula pernah dilakukan shalat Ied dan shalat ghaib atas wafatnya Raja Nahjasyi.

Tak jauh dari masjid Ghamama masih satu kompleks ada masjid Abu Bakar, Umar dan agak menjauh sedikit berwarna putih adalah masjid Ali. Ketiga masjid sahabat tersebut sebenarnya tergabung bersama dan dikenal dengan nama masjid Tujuh atau masjid Sab’ah. Keempat masjid lainnya yakni masjid Salman Al Farisi, yang hanya sempat terlihat dari kejauhan, masjid Ustman., masjid Saad bin Muadz dan yang paling besar adalah Masjid Fatah. Masjid Sab’ah atau masjid Tujuh dibangun untuk memperingati peristiwa bersejarah yakni perang Khandaq (Ahzab) yang dimenangkan oleh pasukan muslimin berkat ide membuat parit dari Sahabat Salman Al Farisi. Tempat-tempat tersebut dulunya adalah pos-pos penjagaan yang dikawal para sahabat dan sekaligus menjadi tempat shalat saat perang.

Lagi-lagi enaknya mengunjungi masjid-masjid tersebut di waktu pagi. Karena belum terlihat lalu lalang jamaah. Bentuk masjid-masjid tersebut terutama masjid Abu Bakar, Umar dan Ali yang tak jauh dari Pintu 6 masjid Nabawi memang terlihat mungil tapi menarik.

3. Pasar Madinah

Di sebelah timur masjid Nabawi, persis di seberang museum Madinah ada pagar memanjang yang menandai bahwa di situlah dahulu terdapat pasar Madinah. Pasar ini dibangun untuk mengakomodir keinginan kaum muhajiin yang pindah ke Madinah dengan memiliki pekerjaan utama sebagai pedagang. Karena pasar terbesar dan terlengkap saat itu milik kaum Yahudi dari Bani Qainuqa maka Rasulullah berinisiatif agar kaum muslimin memiliki pasar sendiri yang bebas biaya sewa atau retribusi.

Menurut riwayat Ibnu Zabalah dari Abas bin Sahal dari ayahnya disebutkan bahwa untuk merealisasikan pasar tersebut Rasulullah mendatangi warga Bani Saidah (kaum Saad bin Ubadah ) dan meminta mereka untuk dapat menyerahkan tanah kosong yang semula disediakan untuk tanah perkuburan. Permintaan Nabi tersebut mereka kabulkan, dan akhirnya nabi jadikan sebagai tempat perniagaan bagi umat Islam yang disebut dengan Saniyatul Wada’i.

Jika orang yang berniaga di pasar Yahudi dipungut sewa, maka berniaga di pasar kaum muslimin ini bebas daripada sewa atau pajak, akibatnya dalam sebentar saja, maka para pedagang yang pada mulanya berjualan di pasar Yahudi segera pindah ke pasar umat Islam.

4. Saqifah Bani Saidah

Saqifah artinya aula atau tempat berkumpul untuk melakukan musyawarah atau rapat. Saqifah Bani Saidah artinya tempat berkumpul milik Bani Saidah. Letaknya tak jauh dari Pasar Madinah di atas karena memang masih pemukiman Bani Saidah jaman itu. Tempat ini terkenal karena saat Rasul wafat dan belum dimakamkan para sahabat berkumpul di sini untuk membicarakan suksesi kepemimpinan agar tidak terjadi kevakuman.

Kaum Anshar mencalonkan Saad bin Ubadah sedangkan kaum Muhajirin mendukung Abu Bakar RA. Setelah diberi penjelasan oleh Umar RA akhir dicapailah kata mufakat dan rasa legawa untuk mengangkat Abu Bakar RA sebagai khalifah pengganti Rasulullah SAW. Tempat ini sekarang sudah beralih fungsi menjadi taman hijau yang menyegarkan di sudut sebelah timur masjid Nabawi tak jauh dari pintu 15. Di sebelah taman Saqifah tersebut ada pasar yang cukup ramai dikunjungi para jamaah untuk membeli kurma maupun asesoris. Harga di pasar ini lumayan lebih miring dibandingkan tempat lain. Sambil belanja kita bisa ngadem di Taman tersebut.

5. Museum Madinah atau Museum Nabi

Letaknya persis di samping timur masjid Nabawi bisa lewat pintu 13. Sebenarnya ini bangunan baru namun di situlah secara lengkap sejarah nabi diceritakan. Mulai dari kelahiran Nabi berikut sil silahnya, hijrahnya nabi ke Madinah berikut rute-rute yang dilalui, skema perang yang dilakoni Rasulullah termasuk skema perang Uhud yang meninggalkan tewasnya para sahabat terbaik juga bagaimana kehidupan Rasulullah di Madinah bersama istri-istri beliau. Penggambaran betapa sederhananya rumah Nabi membuat kita tersentuh dan terharu.

Sumber : .islampos.com

Read More
makam-jasad-rosulullah-saw

Tips Berkunjung Ke Makam Nabi Muhammad SAW

Bersujud di Raudhah atau Taman Surga adalah impian bagi hampir setiap umat Muslim yang berkunjung ke Masjid Nabawi di Kota Madinah, Arab Saudi. Apalagi bagi para “newbie” atau pendatang baru.

Raudhah adalah sebuah ruangan yang terletak di antara mimbar Masjid Nabawi dengan makam (dahulu kamar tidur) Rasulullah Muhammad SAW. Sang Nabi sendiri yang menyebut ruangan seluas 22×15 meter itu sebagai taman surga dan meminta umatnya untuk berdoa sebanyak-banyaknya di tempat itu.

Kabarnya, laiknya berdoa di Multazam atau lokasi antara Hajar Aswad dan Pintu Kabah di Kabah, Makkah, di Raudhah semua doa yang tulus akan dikabulkan. “Antara mimbarku dan rumahku merupakan taman dari taman-taman syurga.” (HR. Al Bukhari & Muslim).

Selain untuk berdoa, bagi umat Islam era kini, Raudhah adalah jarak terdekat yang dapat dicapai untuk bersanding secara fisik dengan Sang Nabi karena tepat di balik bangunan persegi empat berwarna hijau dengan kaligrafi emas yang terletak di sebelah kiri saat mereka bersujud di Raudhah itulah makam Nabi Muhammad SAW.

Dahulu rumah Nabi Muhammad SAW dan Siti Aisyah terletak di luar kompleks Masjid Nabawi, namun karena perluasan area masjid kini rumah tersebut berada di dalam kawasan Masjid Nabawi di Madinah. Untuk mencari posisi Raudhah di area Madjid Nabawi yang terus diperluas hingga kini dapat menampung hingga satu juta jamaah tersebut tidak sesulit yang dibayangkan.

Dari pelataran masjid yang dihiasi kanopi-kanopi berbentuk payung raksasa karya arsitek Jerman Mahmoud Bodo Rasch, kawasan Raudhah dapat dicirikan dari kubah berwarna hijau. Cukup berdiri di sisi terluar pelataran untuk dapat melihat seluruh warna kubah di Masjid Nabawi, tepat di bawah kubah berwarna hijau yang terletak di samping kubah perak lokasi imam itulah lokasi taman surga.

Bagi jamaah laki-laki, pintu terdekat untuk mencapai Raudhah adalah melalui gerbang Babus Salam atau gerbang Jibril yang memang dikhususkan bagi peziarah. Sementara untuk jamaah perempuan masuklah melalui pintu Ali bin Abu Thalib atau pintu nomor 25-29.

Dari dalam masjid, kawasan Raudhah ditandai karpet berwarna hijau. Sementara seluruh bagian masjid yang lain dilapisi karpet berwarna merah. Jadi ketika kaki belum menjejak karpet berwarna hijau, maka belumlah tiba di taman surga.

Selain karpet hijau, arsitektur bagian dalam Masjid Nabawi di sekitar Raudhah juga tampak berbeda dari bagian masjid yang lain. Langit-langit Raudhah dihisasi fresco bergambar jalinan bunga berwarna merah, hijau dan biru dalam latar putih serta kaligrafi sementara itu tiang-tiangnya tidak berwarna putih dan abu-abu dengan hiasan emas seperti bagian masjid yang lain melainkan berwarna merah jambu dengan hiasan emas dan kayu.

Sumber : saharakafila.com

 

Read More
kabah-di-masjidil-haram-makkah-arab-saudi

Hai Para Orang Tua, Adakah Doa Untuk KeturunanMu Menjadi Pemakmur Baitullah?

SEJAK dulu, banyak orang Amerika sendiri yang mencibir proyek-proyek antariksa NASA. Berpuluh tahun milyaran dolar dibuang ke luar angkasa tanpa hasil nyata yang bisa dinikmati manusia, kata mereka.

Tapi seorang profesor terkemuka dari Carnegie-Melon University yang mati muda karena kanker pankreas, Randy Pausch, memberi catatan menarik dalam kuliah terakhir menjelang wafatnya yang dibukukan dan difilmkan dengan tajuk “The Last Lecture.”

“Yang telah diberikan NASA kepada anak kecil seusiaku saat itu adalah sebuah WOW.” ujarnya. “Kita bisa ke bulan. Kita bisa menjelajahi langit yang penuh bintang. Inspirasi seperti itu telah menggerakkan berjuta anak Amerika, bahkan seluruh dunia untuk mencapai apa yang mereka capai sekarang. Ya, harganya milyaran dolar. Tapi itu sangat sebanding dengan jutaan anak yang bisa bermimpi dan berjuang mewujudkan mimpi mereka.”

Yang mercusuar diperlukan untuk memandu masa depan.

Agaknya saya punya harapan serupa bagi anak Indonesia, dalam bentuk yang lebih sederhana. Ada beberapa tentu, tapi poin kali ini adalah Imam Masjidil Haram.

‘Ulama Nusantara punya sejarah kedudukan terhormat di Tanah Suci. Syaikh Muhammad Nawawi Al Bantani, Syaikh Ahmad Khathib Al Minankabawy, dan Syaikh Junaid Al Batawy yang menjadi Imam Masjidil Haram, hingga para khathib, pengajar, dan penulisnya yang penuh dedikasi seperti Syaikh Mahfuzh At Tarmasy, Syaikh ‘Abdush Shamad Al Falimbani, Syaikh Khathib Sambas, Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari, Syaikh Baqir ibn Nur Al Juqjawi, Syaikh Abdul Ghani Bima, Syaikh Nahrawi Al Banyumasi, dan puluhan nama lain hingga masa akhir Syaikh Muhammad Yasin Al Fadani.

Tentu memang saat ini Kerajaan Arab Saudi mengatur agar yang menjadi Imam di Haramain hanya yang berstatus warga negaranya sahaja. Tetapi di masa depan, kita dapat berharap ada perubahan. Selain Arab, komunitas muslim dunia yang terbesar kini justru berbahasa Urdu dan Indonesia-Melayu.

Alkisah, beberapa dasawarsa lalu seorang pemuda Arab diusir keluarga besarnya karena menikahi seorang perempuan Pakistan yang dianggap tak sepadan. Lelaki ini bersama istrinya lalu mendidik putra mereka menjadi seorang ‘Alim yang Hafizh lagi merdu suaranya. Kini, sang putra diangkat menjadi salah satu Imam Masjidil Haram paling favorit. Maher Al Mu’aiqly namanya. Kebanggaan bagi kakek yang dulu pernah menundung ayahnya.

Barangkali cita saya agar akan ada lagi Imam Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan bahkan Masjidil Aqsha yang berasal dari Nusantara belum tampak fajarnya. Tapi saya pernah menitipkan ini pada Menteri Agama kita untuk disampaikan pada Kerajaan melalui Pengetua Para Imam Haramain Syaikh ‘Abdurrahman As Sudais. Saya yakin, ini bukan hanya soal kebanggaan sebagai bangsa, tapi inspirasi penuh cahaya bagi anak-anak kita.

Para ayah dan para ibu, setidaknya citakanlah anak-anak kita menjadi pemakmur rumah Allah. Karena satu-satunya ambisi seorang ibu bagi anaknya yang saya temukan sampai dinadzarkan dan dipuji dalam Al Quran, adalah agar bayi dalam kandungan menjadi pemimpin keshalihan dan pelayan ibadah di rumahNya.

“Ingatlah ketika istri ‘Imran berkata, ‘Duhai Rabbku, sungguh aku nadzarkan padaMu janin dalam kandunganku untuk menjadi muharrar, orang yang shalih lagi berkhidmah di Baitul Maqdis, maka terimalah nadzar dariku. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Ali ‘Imran: 35)

Tiga hari yang lalu, menerima kenang-kenangan dari salah satu Imam Masjidil Haram, Syaikh Faishal Ghazzawy, saya berdoa bahwa kelak Nawwaf Muharrik Fillah atau adik-adik dan kawan seangkatannya menjadi bagian dari muharrar, para Imam yang beribadah dan melayani ibadah di ketiga Masjid Suci. Allaahumma Aamiin.

Read More